Kamis, 03 Mei 2012

Kerokan

Sebagai orang Indonesia, tentunya kita sangat mengenal istilah KEROKAN, terutama di wilayah Jawa.
Kerokan merupakan metode penyembuhan dengan cara menggosok tubuh dengan alat atau kerokan, meode dikerok dengan menggunakan uang logam dan minyak atau balsem pada bagian tubuh tertentu,misalnya punggung, tangan, bagian paha dll.

Meskipun terkesan tradisional, metode kerokan memang berkhasiat untuk menyembuhkan rasa tidak enak atau demam.

Metode ini cukup ampuh menghilangkan rasa tidak nyaman ketika demam. Metode tradisional ini telah menjadi andalan banyak orang untuk mengatasi masuk angin, mual, atau tidak enak badan.

BANYAK orang selalu minta kerok ketika badan merasa nyeri atau pegal karena masuk angin. Bermodalkan sekeping uang logam plus balsem, gejala masuk angin umumnya langsung ngacir. Semakin banyak gurat-gurat merah gelap memenuhi punggung, kian senang sang pasien.

Kerokan memang, cara paling tua mengatasi gejala masuk angin. Uniknya, cara sederhana ini tak hanya populer di Indonesia, melainkan juga di negara-negara Asia lainnya. Orang Vietnam menyebut kerokan sebagai cao giodi. Adapun warga Kamboja menjulukinya goh kyol. Di China yang terkenal dengan akupunturnya, metode kerokan juga cukup populer dengan sebutan gua sua. Bedanya, orang China memakai batu giok sebagai alat pengerok, bukan kepingan uang logam.

Dengan rasa hangat yang dihasilkan dari uang logam dan minyak atau balsem,kerokan dipercaya dapat membantu mengobati penyakit seperti perut kembung atau nyeri otot.Bisa kita lihat pada orang yang kerokan,bagian tubuh yang dikerok akan menimbulkan warna kemerahan-merahan bukan? Bahkan bekas kerokan sampai ada yang menghitam dan terlihat gosong.

Konon, warna merah yang timbul pada kulit setelah kerokan adalah pertanda badan telah kemasukan angin secara berlebihan. Makin pekat warnanya, pertanda banyak pula angin yang berdiam di tubuh .Benarkah?

Tentu tidak. Warna merah pertanda pembuluh darah halus (kapiler) di bawah permukaan kulit pecah sehingga terlihat sebagai jejak merah di tempat yang dikerok. Badan orang sehat pun akan memerah jika dikerok. Karena itu, banyak kalangan tak meyakini kemujaraban pengobatan kerok.

Sebagian orang menganggap, warna merah yang timbul pada kulit setelah kerokan adalah pertanda badan telah kemasukan angin secara berlebihan. Makin pekat atau gelap warnanya, pertanda banyak pula angin yang berdiam di tubuh, tetapi ternyata warna merah yang dihasilkan tersebut merupakan hasil pecahan pembuluh darah di bawah permukaan kulit yang sudah tidak berfungsi dengan baik,sehingga terlihat sebagai jejak merah di tempat yang dikerok.

Metode kerokan ini dapat membuat seseorang merasa nyaman,namun jika kerokan dilakukan terus-terusan dan dengan prosedure yang kurang tepat,akan dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah yang masih berfungsi dengan baik,dan hal ini dapat membahayakan bagi kesehatan.Tapi kerokan sah-sah saja dilakukan asalkan dilakukan dengan benar
.
"Di negara negara barat, kerokan sama sekali tak dikenal," ajar Saptawati Bardosono, dokter dari Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia.

Namun, secara medis, kerokan adalah salah satu metode memperlebar pembuluh darah tepi yang menutup (vasokontiksi) menjadi menjadi semakin melebar (vasaditilasi).

"Ini tak berbahaya asal tak jadi kebutuhan primer," ujar Mulyadi, dokter dari Klinik Medizone. Jika terus-terusan kerokan, akibatnya banyak pembuluh darah kecil dan halus yang akan pecah.

Namun, dalam taraf normal, kerokan akan membuat penderita masuk angin merasa nyaman karena telah melepas hormon beta endofin. "Secara ilmiah, praktek sederhana ini terbukti mampu mengobati gejala masuk angin atau sindroma dingin yang memiliki gejala nyeri otot (mialga)," tandas Mulyadi.

Bukan hanya itu, prinsip kerokan tak beda jauh dengan akupuntur yang menancapkan jarum dalam tubuh. Maksud Mulyadi, prinsip kerokan adalah meningkatkan temperatur dan energi pada tubuh yang dikerok. Peningkatan energi ini dilakukan melalui perangsang kulit tubuh bagian luar. Dengan cara ini, saraf penerima rangsang di otak akan menyampaikan rangsangan yang menimbulkan efek memperbaiki organ pada titik-titik meridian tubuh.
Nah, pada gilirannya, arus darah di tubuh yang lancar akan menyebabkan pertahanan tubuh juga meningkat.

Di Indonesia, kerokan menjadi salah satu terapi tradisional yang paling populer.
Mulai dari ibu-ibu di pelosok, hingga artis terkenal melakukan kerokan saat mengalami “masuk angin”. Meski populer di tanah air, teknik pengobatan dengan menggaruk kulit ini ternyata juga digunakan di negara lain terutama di Asia dengan nama yang berbeda-beda.

Kerokan di Vietnam

Di Vietnam, kerokan disebut c'o gió yang arti harfiahnya adalah “mengerok angin” atau “menangkap angin”. Sama seperti di Indonesia, c'o gió juga memakai koin dan minyak atau balsem.
Selain dengan koin, teknik lainnya menggunakan telur rebus dengan koin dimasukkan di tengah kuning telur. Telur dibungkus dalam sepotong kain dan diusapkan di atas dahi (dalam kasus demam) dan daerah lain kulit. Setelah menggosok, ketika koin tersebut diambil dari telur, maka akan tampak hitam.

Kerokan di Kamboja
Di Kamboja kerokan disebut goh kyol. Arti harfiahnya adalah “mengeluarkan sakit karena angin”. Teknik yang digunakan di Kamboja sama dengan yang ada di Vietnam.

Kerokan di Cina
Di Cina, kerokan dilakukan lebih serius sebagai teknik pengobatan yang disebut gua sha. Nama ini punya makna “mengerok demam”.
Sedikit berbeda dengan di Indonesia dan Vietnam, di Cina gua sha dilakukan dengan alat mirip sendok, walaupun ada juga yang memakai koin.
Gua sha di Cina selain dilakukan oleh kebanyakan penduduk, juga dilakukan oleh seorang terapis yang dibayar. Teknik gua sha saat ini juga banyak digunakan bukan hanya untuk pengobatan demam atau masuk angin saja, tapi juga untuk kecantikan.

Kerokan di negara barat

Di negara-negara barat, kerokan banyak dipraktekan oleh imigran. Di Amerika Serikat sering ditemui warga keturunan Vietnam yang melakukan kerokan. Selain itu, teknik gua sha juga dipelajari oleh warga di negara-negara barat sebagai sebuah terapi. Yang menarik, kerokan seringkali disalah kira sebagai penyiksaan oleh polisi.

Teknik melakukan kerokan yang benar adalah dengan menggunakan motif sirip ikan atau tulang daun, sebab susunan otot tubuh memang berbentuk seperti itu. Jangan mengerok dengan motif yang acak dan berubah-ubah.

PANDANGAN MEDIS SEPUTAR KEROKAN

Pandangan medis seputar kerokan cukup beragam. Namun pada umumnya, dokter di Indonesia menganggap kerokan sebagai hal yang tidak berbahaya selama dilakukan dengan cara yang wajar dan tidak sering.
Kerokan bisa membuka pembuluh darah, sehingga aliran darah menjadi lebih lancar. Selain itu, efek minyak angin atau balsem yang dipakai untuk kerokan juga bisa meringankan rasa sakit dan meresapkan rasa hangat.

Prinsip kerja kerokan adalah menipiskan kulit, cara ini menyebabkan panas tubuh cepat keluar sehingga demam menjadi turun, ujar Dr. Michael Triangto, Sp.KO sebagaimana dikutip dari yahoonews.

HATI-HATI...

Kerokan di Leher Beresiko Stroke

Bila Anda sudah terbiasa kerokan, hindarilah kerokan disekitar leher. Kebiasaan ini berpotensi menimbulkan stroke.

Kerokan memang sudah sangat populer untuk orang Indonesia. Metode ini sudah dilakukan turun temurun dari nenek moyang. Tidak sedikit yang mengeluh tidak akan sembuh sebelum kerokan.
Ditambah beberapa penelitian juga telah menyebutkan bahwa kerokan bisa mengurangi keluhan penyakit seperti masuk angin, mual, pegal dan nyeri.

Tapi saat ini mulailah untuk tidak membiasakan diri kerokan di daerah sekitar leher Anda.

Ahli Penyakit Jantung dari RS Harapan Kita Prof. DR. Dr. Budhi Setianto, SpJP mengatakan kebiasaan kerokan di sekitar leher dapat mengakibatkan stroke bila ada saraf yang rusak.

Saat kerokan, pembuluh darah akan melebar. Jika dilakukan terlalu sering dan di bagian yang sama dikhawatirkan pembuluh darah kecil dan halus akan semakin melebar lalu pecah.

“Ini sangat berbahaya terutama untuk para orang tua,” ungkapnya.

Selama ini kerokan memang selalu dimulai dari bagian leher belakang dan turun ke bagian punggung sampai panggul. Penelitian juga menyebutkan pola ini membantu proses penyembuhan karena melewati titik-titik meridian atau akupuntur.

Tapi tetap saja pengobatan medis lebih dianjurkan untuk mereka yang menderita suatu penyakit. Untuk masuk angin, mual, atau tidak enak badan, cara-cara alami lebih baik dibanding hal lain

Hasil kerokan model tulang daun atau ikan, yang dinilai baik untuk kesehatan

“Kerokan pada dasarnya adalah menipiskan kulit. Tindakan ini membuat panas tubuh mudah keluar, sehingga suhu tubuh yang semula demam menjadi turun,” kata dr Michael Triangto.

Ia menambahkan, hasil kerokan sebaiknya tidak acak-acakan.
“Baiknya jika (dilakukan) seperti motif tulang daun atau ikan, karena bentuk serat otot memang demikian. Saat kerokan pun ada faktor penekanan sehingga seperti pemijatan. Hal ini akan memberi efek pemanjangan pada otot-otot yang memendek karena peradangan. Dengan begitu, rasa pegal-pegal pun akan hilang,” papar dokter yang berpraktik di klinik Slim and Health ini.

Kendati begitu, Triangto menekankan bahwa tidak semua orang cocok dengan metode penyembuhan alternatif yang satu ini. “Ada yang tidak suka karena kesakitan,” imbuhnya.



1 komentar:

Anonim mengatakan...

coba ditambahkan dengan data ilmiah donk... hasil disertasinya prof didik tamtomo

Poskan Komentar